Search

Simple-Cat-Just Love my Life

Not sure can give the inspirations, especially being people who inspire

Nikah, Butuh Biaya Berapa ya?

Banyak sekali yang harus dipersiapkan untuk acara pernikahan, mulai dari gedung hingga perintilan souvenir pernikahan. Tetapi yang lebih penting atau menjadi dasar pilihan-pilihan itu semua adalah kesepakatan akan seperti apa acara pernikahan ini nanti.

Mungkin ini bisa menjadi sedikit intro…Sebagai asli Kalimantan, keluarga saya merupakan rantauan di Kota Bandung. Begitu pula dengan keluarga inti, dua kakak saya bekerja di luar negeri. Sementara pihak Calon Pengantin Pria (CPP / sekarang adalah suami), keluarga besar dan intinya masih berada di Tanah Sumatera.

Kami memutuskan memilih Kota Bandung sebagai tempat akad dan resepsi karena di sinilah kawan-kawan kuliah serta kerja kami berada. Kami pastikan bahwa acara yang akan kami buat adalah acara untuk teman-teman kami dari kami berdua. Bukan acara dari orang tua.

Ini agak sedikit berbeda, karena pada beberapa adat istiadat, acara pernikahan memang jelas merupakan acara pihak wanita atau CPW, sehingga acara wajib dilaksanakan di rumah atau asal Si Wanita. Untungnya, keluarga saya sudah sejak lama tidak terikat dengan adat istiadat seperti itu. Bahasa kerennya adalah lebih modern atau terbuka.

Lantas jika ini disepakati sebagai ‘acara kami’, siapa yang akan mengeluarkan uang untuk acara ini?

Sejak awal atau sebelum merundingkan ini dengan keluarga masing-masing (di mana biasanya pasti banyak pertimbangan kewajaran bahkan adat istiadat), saya dan calon suami (waktu itu masih calon) sudah membahas lebih dulu. Kami sepakati biayanya keluar dari kantong pribadi kami berdua, pembagiannya juga sesuai kesepakatan. Selain itu perhitungan ini juga terlepas dari berapa nantinya bantuan yang diberikan masing-masing orang tua pengantin karena sifatnya tidak pasti. Agak nekat memang, tapi Bismillah untuk segala niatan yang baik.

Jadi, jika ada yang bertanya ‘berapa biaya menikah yang kami keluarkan?’ Maka saya akan menjawab, ‘tergantung bagaimana kamu akan menikah’ atau ‘seberapa besar tabungan atau biaya yang dipersiapkan’. Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan saat mempersiapkan pernikahan, yaitu:

1. Komunikasi

Begitulah, semua harus dikomunikasikan dengan jelas oleh kedua calon pengantin, bahkan sebelum di bawa ke diskusi keluarga. Ini berlaku mau di mana acara dilaksanakan (keluarga CPP atau CPW), siapa yang akan mengheluarkan biaya lebih besar atau hal lainnya. Biasanya sih, tiap anak tentu saja sudah diberi ancang-ancang oleh keluarganya masing-masing terkait biaya untuk mereka menikah.

Membicarakan isu biaya menikah ini agak sensitif, apalagi tiap pasangan dilahirkan dan dibesarkan dengan cara atau adat yang berbeda. Wajib fardu’ain membahasnya sedetail mungkin agar tidak ada salah paham saat mengurus hal ini itu di tengah jalan. Beberapa kali saya membaca artikel, terkadang pernikahan bisa menjadi gagal karena hal-hal sepele yang hanya butuh dikomunikasikan saja.

2. Hitung tabungan dan biaya yang dibutuhkan

Tentukan tabungan yang akan dikeluarkan, lalu keluarlah nominal angka yang tersedia untuk mengurus setiap detail acara. Usahakan tabungan tetap mengikuti kebutuhan, sehingga tidak lantas meminjam atau menggadaikan ini itu agar semua terpenuhi sesuai ego atau gengsi.

3. Biaya Tak Terduga

Nah, catatan tambahannya adalah jangan lupa memperhitungkan biaya tak terdua saat-saat menjelang hari H. Selisihnya bisa naik 30% – 50%. Jadi perhitungannya seperti ini, jika tabungan atau biaya yang kita persiapkan nilainya Rp. 100 juta, maka amannya biaya nikah yang siap kamu keluarkan untuk sewa vendor semuanya adalah Rp. 70juta. Simpan Rp. 30 jutanya untuk kebutuhan tak terduga (apa saja yang tak terduga itu, mungkin akan saya bahas di tulisan yang akan datang hahahaa).

4. Jangan lupa kebutuhan lainnya

Apasih kebutuhan lain itu? Hayo jangan lupa, beres nikah mau tinggal di mana? Di Pondok Indah Mertua atau kontrakan sendiri meskipun kecil? Sebenarnya hal ini sih bebas atau pilihan masing-masing.

Nah, kalau pilihan kamu adalah kontrakan, jangan lupa diperhitungkan tabungan kamu untuk kontrak rumah. Misalnya biaya kontrakan rumah Rp.20 juta / tahun, maka itu artinya, biaya nikah dari tabungan atau yang dipersiapkan sebisa mungkin sudah dikurangi dengan biaya kontrak rumah tersebut atau sekitar Rp. 80 juta (include biaya tak terduga tadi).

5. Persiapan Matang dan Cepat

Seperti yang saya sudah paparkan di tulisan sebelumnya, tidak mudah untuk mempersiapkan pernikahan dengan waktu terbatas. Biasanya, empat bahkan tiga bulan sebelum tanggal adalah waktu di mana vendor-vendor murah meriah bagus sudah banyak di-tag oleh pasangan pengantin lain. Ingat, setiap minggunya ada banyak pasangan yang menikah. Bukan hanya kamu. Heheehe. Jadi carilah vendor lebih jeli. Segeralah stalking atau follow akun-akun vendor di Instagram karena dari sana kita banyak tahu vendor lainnya yang kadang tidak kalah bagus. Khusus vendor akan saya tulis di tulisan selanjutnya yah…

Semoga sedikit bisa mencerahkan kalian yang saat ini mulai pening mikirin biaya menikah. Ingat, menikah itu murah. Hanya Rp. 600.000 di KUA setiap hari kerja. Selebihnya, yang mahal adalah gengsinya. Heheeehe. Oh ya, jangan pernah mengkategorikan mahal dan murah karena itu semua relatif…!

Tentang Hidup: Bab 1 Sesungguhnya

Dulu,,,

Cie dulu…

Ada seorang abang-abang eh Uda-uda sok cool lebih tepatnya, asal tanah Sumatra, yang cerita ke saya kalau gak butuh waktu lama dalam mempersiapkan pernikahan. Sebenarnya ini gak dulu banget sih, tapi kalau dihitung-hitung yah kurang lebih satu tahun yang lalu juga. Saat doi lagi usaha buat pedekate. Heheee.

Ya entah kenapa juga dulu kami ngomongin masalah persiapan nikah. Padahal statusnya cuma teman kantor. Itupun gak deket-deket amat, karena emang gak ada alasan buat deket #prinsip.

Kalau gak salah ingat, kami berdebat karena menurut dia mempersiapkan nikah hanya butuh niat. Terbukti dari pengalaman temannya yang mempersiapkan nikah hanya dalam waktu tiga bulan sebelum. Sementara saya, tentu tidak berfikir seperti itu. Mempersiapkan pernikahan macam apa yang tidak butuh energy dan pastinya butuh uang agar paling tidak, energy yang kita keluarkan semakin sedikit! Ini pengalaman saya sebagai bungsu di keluarga yang melihat tiga kakak saya dulunya saat menikah. Iyah sebenarnya mempersiapkan pernikahan bisa saja dalam kurun waktu tiga bulan sebelum, tapi finansial harus benar-benar aman agar prosesnya juga bisa lebih cepat.

Sementara jika ingin proses cepat dan hemat? Bisa. Menikah saja di KUA langsung. Cuma butuh mahar untuk rukunnya dan bayar KUA-nya Rp. 600 ribu  [tetap bayar atau gratis yah kalau di KUA-nya langsung?]. Tapi ini proses kalau mau maksain segera dan dengan biaya seminimal mungkin lho…!

Lalu pertanyaan selanjutnya, apa iya kamu mau melewatkan momen sekali seumur hidupmu dengan sesederhana itu? Jawabannya, sudah bisa ditebak. Menikah itu murah. Yang mahal adalah gengsinya. Dan ini yang bikin prosesnya menjadi lama karena harus mengumpulkan modal. Tapi, menurut saya ini bukan hanya perihal gengsi. Tetapi ada taste yang sebenarnya tidak bisa diungkapkan. Sekali seumur hidup dan akan jadi kenangan super duper manis. Asiiiik. Heheee. Kalau buat saya sih, ini semua kaya modal buat cerita ke anak-anak kelak. “Ini loh Dek, waktu mau nikah dulu ayah kamu ngeyelnya minta ampun…” 😬😬😬

Yasudah, pilihannya bakalan balik ke kita sendiri kan? Mau ambil proses yang mana? Bebas, sesuai kemampuan, dan sesuai kebutuhan sebenarnya.

Than…
Memutuskan segera menikah tentu saja bukan perihal mudah. InsyaAllah kuncinya siap batin. Memilih bulan juga begitu. Karena balik lagi, ini akan tergantung pada bagaimana kesiapan financialmu. Kesiapan lahiriah namanya. (Nulis lahiriyahnya bener gak yah?) Tetapi jika niat kita lillahitaala, insyaAllah semua dimudahkan. Ehm… saya sih merasanya begitu…! Kesimpulannya adalah tidak ada alasan menunda hal yang baik. Terlebih menikah konon adalah menyempurnakan sebagian ibadahmu.

Lalu apa hubungannya menikah dan Si Uda sok cool yang dulu suka cerita masalah niatan dia menikah?

Lantas ketika si Uda ini datang beserta keluarganya bertemu dan menyampaikan langsung niatannya? Dari sanalah saya fikir dunia mulai berhenti sebentar. Dilamar atau dipinang oleh laki-laki yang kamu *harapkan* adalah satu kebahagiaan tersendiri menurut saya.

Intinya adalah akhirnya Uda ini juga yang dulu yakin banget kalau menikah itu bisa dipersiapkan dalam kurun waktu beberapa bulan, berhasil meyakinkan saya! Horeeeeeeee! *happyface*.

Masih sempat tak percaya memang. Apa iya bisa dalam kurun waktu kurang dari satu tahun? Heheee. Padahal dulu selalu mikir, kudu setahun mempersiapkan masalah pernikahan ini supaya matang. Hahahah. Tapi begitulah, wanita akan siap menikah apabila pria yang mengajaknya juga sudah siap!

Menentukan tanggal adalah PR berat selanjutnya. Meskipun saya memiliki darah keturunan Jawa, tetapi bukan  ini alasannya sulit sekali menentukan tanggal. Melainkan wali saya yang bekerjanya cukup jauh.

Untuk saya yang yatim dan hanya memiliki satu wali yang mana dia-pun bekerja di luar negeri, memilih bulan serta tanggal bukan perihal mudah. Sebagai orang yang kadang terstruktur atau memiliki plan jelas, saya mempersiapkan berbagai opsi tanggal. Tentu saja opsi tanggal menyesuaikan waktu kesiapan sang kakak laki-laki semata wayang tersebut. Opsi ini pun kemarin sempat menggantung berminggu-minggu karena kebetulan kakak saya ini memang berniat haji pada tahun ini. Menjelang tanggal keberangkatan, visa-nya belum keluar. Kenapa kami sangat tergantung dengan jadwal atau kepastian keberangkatan hajinya? Jawabannya adalah karena ketika case-nya beliau tidak jadi haji karena tidak dapat visa, maka berubahlah jadwal libur dia di Indonesia. Lalu bergeserlah jadwa nikah kami tadi yang entah harus maju atau mundur. Hahaha. Rumit sejak dalam pikiran, huft.

Sempat deg-degan karena masalah visa dan haji ini. Tapi mungkin takdirnya memang harus menunggu kepastian dari si kakak. Sempat gelisah dan ingin sekali mendesak. Bukan apa-apa, semakin lama menunggu maka semakin banyak waktu yang terbuang. Sementara opsi tanggal semakin dekat. Tapi yasudah, diapun sebenarnya tidak ingin digantung masalah haji ini. Alhamdulillah juga, Uda yang satu itu selalu menenangkan dan memberi energi positif.

Sampai akhirnya, beberapa minggu menggantung berlalu dan titik terangnya mulai keliatan. Visa si kakak keluar dan hajinya bisa ditunaikan dalam waktu dekat pada saat itu. Sementara saya, alhamdulillah tidak harus merubah opsi tanggal atau plan acara. Keluar beberapa opsi tanggal dari keluarga saya, langsung lempar ke keluarga si uda sehingga keluarlah satu tanggal pasti dari kedua belah pihak.

Bismillah… Persiapan akhirnya akan mulai dieksekusi satu persatu. Jauh sebelum keluar tanggal, saya pribadi sebelumnya sudah mulai mencatat atau me-list persiapan yang harus dilakukan. Ya, meskipun hanya pada excel biasa bahkan noted iPhone. Semuanya karena membuat timeline persiapan menikah  ini hanya wacana si uda alias calon suami yang sibuk kerja. Ahahaha.

Ah tapi begini saja tak apa. Alhamdulillah masih dalam hitungan mampu untuk berusaha merampungkannya satu persatu.

Dan dari sini, perjalanan hidup yang sebenarnya akan di mulai…. 🙂

 

Tukarkan Saja Gubernur-mu dengan Gubernur-Ku

Keluar dari hiruk pikuk media dan jurnalistik, membuat saya yang gak pinter-pinter amat ini jadi kudet atas segala permasalahan politik di Indonesia. Ma’lum saja, tempat kerja yang sekarang menuntut konsentrasi saya fokus pada dunia start up dan persaingan SDM-nya. Belum lagi Si Mas Abang yang doyannya ngajakin diskusi bisnis management IT. Alhasil waktu luang saya berkurang drastis, belum lagi perentelan-perentelan kecil urusan pribadi yang menyita pikiran. Jangankan ngurusin politik, nonton drakor yang biasanya minimal 3 episode tiap malam menjadi maksimal 1 episode tiap malam.

Tapi untungnya instinct saya sebagai jurnalis masih lumayan melekat. Waktu itu, begitu ada issue tentang Bapak Ahok (Basuka TP – Gubernur Jakarta) yang diduga melakukan pelecehan terhadap Agama Islam, saya langsung search infonya sebanyak mungkin. Pemberitaan media mulai dari yang pro hingga kontra, saya pikir sudah biasa. Tuntutan permintaan maaf dari Ahok mulai berdatangan. Sebagai tertuduh, Ahok tentu saja membela diri. Tapi syukurlah dia memang menyadari kesalahannya yang tidak sengaja dan dianggap fatal tersebut. Permintaan maaf keluar dari mulut seorang Ahok.

Saya pribadi sempat kaget ketika hal ini sampai menimbulkan Aksi Demo Akbar 4 November 2016. Tujuannya, ‘penjarakan Ahok, karena dia sudah melecehkan Agama Islam’. Luar biasa sekali masyarakat Indonesia yang membela Islam. Tapi di satu sisi, saya juga khawatir ‘kondisi ini’ adalah momentum yang dimanfaatkan pesaing Ahok untuk menjatuhkan dia dalam Pilgub DKI Jakarta pada periode selanjutnya. Saya fikir, kita tahu pasti bahwa prestasi Ahok dan juga ketegasannya dalam menjadi pemimpin yang bisa saya katakan ‘berhasil’ akan menjadi pertimbangan bagi warga DKI Jakarta untuk kembali memilih Ahok. Terlepas dari itu, saya juga mengakui bahwa terkadang Ahok masih harus menjaga bijaknya dalam berbicara di depan media dan masyarakat.

Datanglah Aksi Demo Akbar ber-hastag-kan ‘damai’ tersebut. Saya jadi ingat istilah atau pepatah yang saya buat sendiri, “sering sekali tertutuplah segala kebaikan seseorang hanya karena satu keburukannya. Ini cukup biasa”.

Entah bagaimana kondisi sebenarnya. Ada yang bilang luar biasa damai dibuktikan dengan banyak foto. Memang iya, hingga siang hari saya liat foto kondisinya sangat membanggakan. Tak sedikit juga media yang bilang beberapa spot atau pada waktu tertentu, demo menunjukan kericuhan. Iyah bener juga, malamnya yang seharusnya sudah pulang, mereka malahan anarkis. Alasannya? Karena Presiden Jokowi tidak menemui mereka, tetapi justru diwakilkan oleh RI 2 dan menteri-menteri. Padahal, saya fikir tidak ada yang menjamin juga kondisi tetap damai jika yang keluar adalah Jokowi. Iyah gak sih?

Ah sudahlah, kalau sudah begini kita akan terus saling menyalahkan. Belum lagi media dan kebebasan berbicara di media sosial akan menjadi sumbunya. Lihat saja Home Facebook kalian, semua angkat bicara tentang kasus ini. Ada yang terlalu pintar dan ada yang sok’ pintar. Kondisi-kondisi yang memicu terpecah-belahnya silaturahmi. Ingin saya bilang, ‘kalian semua lebay sekali sih…”. Tapi ko’ yah malah takut ikutan diserang sana sini. Wahahha. Ujung-ujungnya, media sosial memang menjadi tempat di mana seseorang bisa berubah dengan cepat menjadi intelektual dan juga ustadz/ustadzah.

Eh tapi inimah menurut saya pribadi sih…! Saya mah apa atuh, cuma bubuk rengginang di toples Khong Guan yang gak sampai otaknya mikirin surga dan neraka orang lain. Makanya juga, sekarang lagi usaha cari imam yang baik supaya bisa mikirin surga buat diri sendiri dan keluarga nantinya. Boro-boro mikirin surga buat Ahok atau buat Habieb-nya FPI… 🙂

Intinya saya cuma mau bilang, kalau DKI Jakarta sudah tidak membutuhkan Bapak Ahok, mungkin bisa sekiranya Bapak Ahok mempertimbangkan untuk pindah ke Jab*r. Atau agar adil bagaimana jika Jabar dan DKI Jakarta tukar gubernur saja? Kebetulan sekali gubernur di Jab*r orangnya sudah haji dan tipikal ideal pemimpin muslim seperti yang gembar-gembor diharapkan mereka yang angkat bicara. Hasil kerja Gubernur provinsi saya? Tak usahlah saya jelaskan. Kalian liat saja sendiri Jab*r dalam beberapa periode kepemimpinan gubernur yang sekarang. Ini sama halnya seperti saya tak perlu lagi dijelaskan bagaimana kinerja Bapak Ahok karena juga saya bisa melihat hasilnya.

Dari saya, muslim yang tidak sentimen dengan Agama Islam ataupu pihak dan ustadz manapun. Melainkan hanya seorang warga yang rindu pimpinan lebih baik. Dan tolong jangan pernah jawab “masih banyak pimpinan [muslim] yang lebih baik, iya…. Tolong jangan !” 🙂


Surat Cinta

Cara mengungkapkan perasaan yang paling baik biasanya memang dapat melalui surat. Jatuhnya jadi surat cinta gitu.
Namanya juga surat cinta, biasanya sih ditujukan pada orang yang sangat kita sayangi.
Coba masing-masing berhitung, seumur hidup sudah berapa kali menuliskan surat cinta? Ini baru nulis loh yah…
Kalau sudah ketemu jawabannya, pertanyaan selanjutnya adalah sudah berapa kali kamu mengirim surat cinta pada orang yang dituju? Saya sih, 2 kali doank itupun buat orang yang sama. Ma’lum, waktu itu kenalannya sebagai penulis. Jadi yah disitulah saya tunjukan kelebihan saya. Huahahhahahaha.
Eh tapi waktu SMA pernah juga sih sekali,,, Berarti, bakat nulis saya emang dari SMA. #jadimikir.
Eh yaudah… sudah cukup intermezo-nya.

Sebenarnya, surat cinta yang saya maksud di sini bukanlah surat cinta biasa #halah. Jadi, beberapa hari lalu saya akhirnya bertemu dengan moment yang saya tunggu-tunggu. Momen di mana saya bisa mengirimkan surat cinta ke…

.

.

.

.

.

.

.

… ke kantor tempat saya bekerja sekarang.

Bahasa umumnya adalah surat resign. Kenapa saya menamainya surat cinta, karena di surat itulah saya menjelaskan pilihan hidup saya ke depan #apasih.

Kenapa saya bilang, moment ini adalah moment yang saya tunggu-tunggu? Karena “wanita kalau sudah lelah mencari nafkah, rasanya ingin dinafkahi saja.” Hahhaha.

Bekerja bukanlah cita-cita jangka panjang saya. Tetapi memiliki penghasilan untuk menghidupi diri sendiri baik saat ataupun sudah lulus kuliah adalah kewajiban. Buat apa? Yang utama adalah supaya kita lebih menghargai diri kita sendiri yang sebenarnya punya value. Dengan kerja dan punya penghasilan sendiri, saya juga jadi menghargai uang karena saya tahu mendapatkannya tidak mudah. Akhirnya saya jadi mengerti kenapa uang itu harus di manage. Ini ko jadi kaya money oriented yah? Hmmm….

Selain itu tentu saja untuk keberlangsungan hidup bocah-bocah berkumis tipis di rumah. Heheheee. Sisanya, untuk jalan-jalan dan membeli segala sesuatu yang saya inginkan. Sebenarnya ini lanjutan dari yang saya katakan di atas. Kalau kita menghasilkan uang sendiri, kita bisa jalan-jalan atau beli sesuatu yang mahal dengan uang kita sendiri tanpa beban sama sekali. Ya ngapain juga pelit sama diri sendiri yang ingin jalan ke sini atau ke situ atau beli ini beli itu, toh uang yang kita kumpulkan dari keringat kita sendiri. Karena mentraktir diri sendiri itu adalah salah satu cara menghargai diri sendiri. Begitulah hakekat kerja menurut saya. Lebih mirip teori hidup boros dengan alasan sok bijak. Lalu bonus bekerja adalah menyalurkan hobi atau bantu temen sembari mengisi kekosongan. Asik… Hahaha.

Ok, back to story of my resign….

Tahun lalu, saya mengundurkan diri dari perusahaan pertama tempat saya bekerja. Alasannya adalah lelah. Hahahahha. Jadi wanita panggilan untuk liputan sana-sini, bukan hal yang gampang.
Apalagi dihitung-hitung ternyata saya kerja di perusahaan besar itu sudah sekitar 2,5 tahun. Belum bumbu-bumbu kehidupan lainnya yang…. Ah syuhdahlah. Wahahahhaha.

Lantas saya pindah ke perusahaan tempat saya bekerja sekarang. Bertahan lebih dari satu tahun juga bukan perihal gampang…! Apalagi posisinya jauh berbeda dengan pengalaman kerja sebelumnya.
Hm… lelahnya beda lagi. Hahahaha. Tapi alhamdulillah semua terlewati meskipun hasilnya yah masih kurang maksimal menurut saya.

Saya ingat sekali, dari awal saya interview di tempat ini saya katakan pada teman saya yang posisinya adalah pimpinan di perusahaan itu, bahwa saya hanya akan bekerja hingga saya menikah. Kapan? Tentu saja waktu itu tidak ada bayangan kapan nikah. Hahahhaa. Lha gimana mau punya bayangan, itu surat cinta ajah gak ada kabarnya. hahahahha. Dibilang punya target menikah juga tidak terlalu yakin waktu itu. Cuma bisa bilang sekitar satu tahun ke depan. Hahahha.

Lalu setelah satu tahun lebih? Heum… semua berubah.
Akhirnya, dengan modal bismillah dan dukungan sana sini, saya fikir sudah saatnya saya berhenti bekerja sesuai rencana saya. Berarti alasannya menikah? Ya, insya Allah. Karena sudah semakin jelas plannya, sudah semakin jelas juga bagaimana karir saya selanjutnya khususnya di kantor.

Tentu saja ini bukan perihal mudah. Mendadak tidak punya penghasilan, merupakan sesuatu yang ‘wow’. Dalam benak saya adalah “gimana ini jalan-jalan selanjutnya kalau sudah tidak kerja? Gimana kalau mau beli barang ini atau itu? Ha… Artinya saya tidak akan punya penghasilan pribadi lagi.”

Tapi alhmadulillah gak pakai acara galau yang gimana-gimana juga saat memilih keputusan itu. Malahan yah itu tadi, sangat excited karena ini momen yang ditunggu. Mungkin faktor usia yang membuat saya semakin dewasa dan bijak. Hahahha.
Dan sebenarnya cita-cita jangka panjang saya sejak dulu adalah menjadi ibu rumah tangga. Istri yang mengantarkan suaminya bekerja dan anak-anaknya sekolah, juga menunggu mereka pulang. Masak, bikin kue, menata rumah, dan lain-lain yang akan sangat menyenagkan.

Bukankah surga seorang istri ada di telapak kaki suami? Lantas apa yang saya harus khawatirkan? Tidak ada, insyaAllah. Apalagi, melihat ‘dia’ yang sangat-amat mendukung.
Banyak plan hebat atau besar lainnya yang harus fokus kami kejar dan kerjakan berdua. 🙂

Lalu mengingat bahwa waktu akan terus maju dan tidak kerasa, alhasil permohonan undur diri atau surat cinta itu akhirnya harus saya sampaikan.
Hm… Rasanya? Campur-campur. Tapi seperti yang saya bilang di atas. Momen ini sudah saya tunggu sejak lama dan bersyukur karena sekarang hanya tinggal menghitung lembar kalender. 🙂

Sunyi, Sepi, dan Rindu

Sesekali cuti atau meliburkan diri di rumah dari penatnya kantor memang penting.
Akan lebih baik bila sekalian saja Internet di hape dimatikan.
Kalau sudah begini, sunyi datang menyusup dan mencari tempat di dada.
Jangan pernah tanya ke mana sepi? Dia tak akan pernah jauh dari sunyi.
Teringat kata seorang kakak, “mampuslah kita kalau sudah dikoyak-koyak sunyi.”

Memang belum berubah…
Ada sunyi yang tidak bisa dibagi.

Lalu pertanyaannya masih sama, sudahkah kau memeluk dirimu hari ini?

Ya. Dan rindu, menjadi sesuatu yang jauh lebih mendesak ketika bisu.

Mengukur Malam

Ini adalah kali pertama kami makan di mamang-mamang kaki lima gerobakan, secara langsung, di TKP. Bukan, ini bukan berarti kami anak gaul yang nongkrongnya hanya di kafe, mainnya di mal atau bioskop. Bukan sama sekali!

Kami yang sama-sama tukang makan ini, sudah sangat biasa jajan di mana saja. Mulai dari rumah makan yang tidak ada kakinya sampai gerobakan kaki lima, akan dan terus kami coba selagi memang menggiurkan.

Lalu, niat untuk ke Buah Batu sambil cukuran di salah satu Barbershop sekitar situ, tetap menjadi wacana karena males kuadrat (sama-sama males) dan keluar kantor terlalu malam.

Dia masih sibuk dengan diskusi ini itunya terkait kerjaan bersama kawan di kantor, masih super serius di jam-jam maghrib seperti itu. Sementara saya? Juga masih sibuk diskusi perihal penting dan tidak penting dengan geng bubuk rengginang (juga anak kantor). Maklum lah, di kantor kami, geng-gengan itu sudah biasa. Selain geng saya tadi, ada juga geng ale-ale sirsak, geng pasukan hudang beurang (para atlet DotA), serta geng ibu-ibu doyan masak yang semua isinya adalah dedek-dedek emesh berkelamin laki-laki. :))))).

Tapi walaupun begitu, sungguh yang saya obrolkan bersama mereka semua sebenarnya juga terkait masalah kerjaan, tetapi memang gak pakai wajah super serius dan lebih banyak ketawanya. Ini beda cara bekerja yang paling jelas antara saya dan dia.

Setelah menuntaskan masalah duniawi di kantor, salah satu restoran cepat saji andalan yang terletak di sebuah mal adalah tujuan kami. Agak males sebenarnya. Tapi kepengen sih… Tapi berat ke malas. Pft…

Ujung-ujungnya, kami memilih gerobakan di depan salah satu ruko sebrang pintu masuk mal. Duduk di tangga ruko-berdua-menunggu nasi goreng tersaji. Ah… Saya pikir saya sedang main FTV. Hahahahaaaa. Iyah, ini kali pertama sehingga bisa saya sebut ini momen langka. Biasanya sih, kami (saya) lebih memilih beli dan makan di rumah jika makanan incarannya adalah kaki lima seperti ini. Bukan apa-apa, kadang males juga makan pake debu. Cukup hanya kerupuk yang bikin kita batuk. Tak perlu lagi debu pinggir jalan ditabung untuk modal sakit paru-paru.

Duduk sekitar tiga puluh hingga empat puluh lima menit, bukan hal serius yang kami obrolkan. Tampaknya kami lebih banyak menonton orang berjalan atau lalu-lalang bersama keluarga masing-masing. Wajah-wajah bahagia menghiasi komplek mal tersebut. Mungkin karena besok long weekend dan waktu berkumpul keluarga lebih lama. Sebelas dua belas dengan perasaan saya.

Terlepas dari menonton orang lain berkegiatan, sisanya adalah sedikit plan esok hari (kami terbiasa menyusun agenda agar jelas saat ke sana ke mari), sedikit tentang perkembangan plan jangka pendek kami yang juga super penting, sedikit tentang apa yang saya alami di kantor hari ini.

Obrolan tersebut lanjut sampai ke rumah yang jaraknya sekitar satu setengah kilometer dari komplek mal tempat kami makan tadi. Di sambut dua keponakan kecil yang sibuk memanggil dia dengan sebutan ‘om’ dan berteriak minta dirakitkan sebuah meja belajar (lagi, karena sebelumnya sudah pernah), adalah moodbooster di otak yang membuat sata terfikir bahwa segera menikah adalah perihal yang sangat baik. Cepat atau lambat, saya ingin keluarga kecil kami juga seperti itu. Bocah-bocah yang berteriak karena terlalu antusias menunggu kedatangan ayahnya sepulang meeting kerja. Huhuuuuu, kan so sweet yah… :’)

Menikmati malam, kami lanjutkan dengan duduk di teras. Tanpa kopi atau teh karena lupa menawarkan. Heheee. Dua jam duduk bareng di teras rumah, juga hal perdana. Biasanya, kami duduk di ruang tamu agar dia bisa buka laptop dan bekerja. Bagaimana lagi, saya adalah saingan keras pekerjaannya. Makanya, pacaran-duduk di teras berdua seperti ini…. Ah… Sinetron banget. Hahaha. ;)))))

Percayalah bahwa yang kami obrolkan sepanjang waktu itu adalah pekerjaan. Hahahahaaaa. Kerja sekantor, dan ada pada dua divisi yang terkait, rupanya menguras waktu pribadi saya dan dia. Bukan rencana jalan-jalan, kami malahan mengobrolkan kerjaan. :)))) Beban kerja masing-masing, evaluasi diri masing-masing, sampai target atau harapan masing-masing. Ya sebenarnya ini juga penting karena berelasi dengan visi-misi kehidupan kami ke depannya. Tak banyak berdebat, bahkan memang tidak sama sekali. Saya sadar diri untuk tetap menjadi pendengar karena urusan management perusahaan, dia jauh lebih berpotensi dari saya. Meskipun sesekali dia juga suka belok dan harus dikembalikan ke jalan yang benar. Hahahaha.

Poinnya, tetap memastikan bahwa persepsi kami masih sama dan cita-cita kami juga masih satu tujuan yang sama. Teman hidup, jelas harus menjadi partner yang baik sebagai teman seperjalanan.

Yah… Begitulah bahagia…
Semuanya kita yang ciptakan. Ini cara agar kita tetap fokus mencintai kehidupan diri kita sendiri.

Thanks God, It’s Friday.

Bandung, 09 September 2016

Mengulang Tahun (lagi)

Saya suka mendadak sangat senang dan suka mendadak sangat galau, pada saat 3 September datang. Senangnya karena biasanya banyak hadiah ulang tahun dari kakak-kakak. Galaunya adalah karena mau tidak mau harus plus satu usia saya. Semejak itu, saya putuskan usia saya mentok di dua-puluh-dua tahun (titik)


Menuju dan sampai pada usia ini, saya merasa jauh-jauh dan sangat jauh lebih baik. Saya mulai paham menghadapi situasi-situasi rumit yang sebagian besar hadir karena diri saya sendiri. Situasi sesuai usia. Heheee. Prinsipnya masih sama dan saya coba terapkan kembali. “Jika masalah percintaan ini adalah perkara yang rumit, maka sederhanakanlah.” Dengan begitu, setengah beban hidup anak muda macam saya akan lepas. Asek…

Toh akhirnya ending dari semua akan lebih jelas, tidak sulit mengambil keputusan dari setiap langkah yang dilalui jika memang: 1. Jelas arahnya; 2. Tanganmu digenggam erat oleh orang yang tepat saat melangkah.

Pertengahan tahun, saya putuskan untuk komit agar fokus menghidupi hidup dan cinta saya sendiri. Begitu saja sudah cukup rumit dan menyita waktu. Modalnya adalah Bismillah…! Ah… Kadang di posisi sini saya merasa saya harus move dari usia dua-puluh-dua. Saya pikir, saya sudah cukup dewasa untuk naik paling tidak menjadi dua-puluh-tiga tahun angka ini juga dibuat untuk mengakali agar jeda usia saya dan dia tidak terlalu jauh. Hahahahaaa.

Lebaran dan menginjak sesudahnya, seseorang yang tak kalah ingin komit untuk menjadikan saya sebagai partner hidupnya, datang ke rumah saya, beserta keluarganya. Bukan kali pertama untuk dirinya pasti. Tapi kali pertama untuk keluarganya sebagai pertanda serius. Terjawab sudah rasanya sejuta pertanyaan dalam diri saya, kenapa bisa dengan semudah itu melangkah ke genggamannya…?

Saya dilamar oleh laki-laki super serius yang hobinya ngoding dan menghabiskan waktu berjam-jam untuk bekerja di depan laptop.

“Deg-degan juga yah…,” bisiknya pada saya, beberapa menit sebelum mengutarakan maksud kedatangannya beserta keluarga. Posisi duduknya mulai gelisah dan tangannya mulai basah berkeringat.

Saya hanya tersenyum. Batin saya, “cowo kaya kamu, memang sekali-sekali kudu begini. Biar gak cuma sibuk di depan laptop, tapi ingat waktu untuk injak bumi dan sadar kalau ada wanita yang ingin membangun cita-citanya bersama kamu.”


Yah, di sana saya sadar bahwa Tuhan beri saya hadiah ulang tahun lebih cepat satu bulan dari seharusnya. Kebaikan lainnya dari Tuhan adalah, laki-laki ini bahkan hadiah seumur hidup untuk saya. Bukan hanya tahun ini! Masih gak mau bersukur? Saya fikir, malu rasanya kalau sampai enggan bersyukur ketika hidupmu mulai lengkap oleh keluarga tersayang, sahabat dan teman-teman luar biasa, juga sekarang ditambah laki-laki paling hebat di dunia setelah dua lelaki lainnya; alm. Bapak dan kakak laki-laki semata wayang.

Harapan saya tahun ini sudah jelas… Meminta perlindungan Tuhan dan semesta agar segala urusan kami dilancarkan dan dimudahkan. Diberi kekuatan juga kesabaran. Tetap menjadi seorang bungsu yang lucu, plus akan menjadi seorang istri dan seorang ibu, tentu bukan tugas sederhana. Tetapi saya yakin, tidak semua seberuntung saya saat ini.

Tetap hadir di tengah-tengah keluarga yang hangat, bersanding dengan dirinya yang gagah dan bijak juga gendut, bahkan akan menjadi bagian dari keluarga hangat lainnya: adalah pekerjaan rumah sekaligus nikmat yang setiap harinya harus berubah menjadi energy.

Ah… Tetap bahagia seperti ini, pasti akan sangat menyenangkan. Semoga!

“Terima kasih yah… Karena meskipun hadir tanpa keluar dari dus berwarna merah maroon dan pita terikat di atasnya, kamu tetap hadiah yang terbaik dan paling indah.”

Syafakallah

Saya pikir setiap orang akan merasakan hal yang sama ketika seseorang yang disayanginya mengalami sakit.

Berbagai macam makanan mendadak tidak enak di lidah. Waktu yang panjang untuk tidur seolah tidak berguna karena nyenyak jauh rasanya akan datang.

Begitulah! Khawatir yang berlebihan, galau yang keterusan hingga tak tahu diri akan mengganggu sekitar tanpa disadari secara personal.

Lalu semakin genaplah alasan mengapa sepasang manusia harus hidup berdampingan. Tentu saja alasannya agar ketika salah satu di antaranya ada yang sakit, maka ada seseorang yang mendampingi. Paling tidak, ada tempat bersandar setiap saat.

Ah begitulah susahnya saling melengkapi dengan batasan jarak, waktu, dan kondisi. Jakarta – Bandung mendadak seperti Indonesia – Hong Kong karena terasa sekali sulitnya untuk bertemu walau hanya demi menengok dan tahu bagaimana keadaan dia yang sakit barang beberapa jam.

Tapi yasudah, mungkin Tuhan punya cara sendiri agar kami menjadi semakin lebih dekat dan yang pasti, menjadi lebih kuat seperti ini. Menjadi lebih paham artinya saling khawatir. Lebih tahu arti kehadiran satu sama lain. Lebih sadar mengapa masing-masing harus menjaga kesehatan agar tidak ada lagi rasa khawatir yang ditimbulkan.

Doa kami adalah semoga segala yang terbaik terus mengiringi kami dan semoga kami dapat tetap sehat untuk terus saling melengkapi.

dia

Tumbuh menjadi dewasa hingga di usia 22 tahun 26 tahun, membuat saya banyak belajar dari apa yang saya lalui. Tidak terkecuali masalah hati dan rasa.

Dua atau tiga tahun terakhir, bahkan saya rajin sekali mencatat materi ‘kuliah kehidupan’ dari orang-orang terdekat yang sudah berpengalaman. Motivasinya jelas, saya tidak akan hidup dalam model ‘kehidupan dan cinta’ yang levelnya masih anak TK. Seperti sekolah pada umunya, ‘kehidupan dan cinta’ saya harus naik kelas dalam waktu tertentu. Paling tidak, cepat atau lambat!

Akhirnya, banyak yang bisa saya jadikan acuan hidup. Tetapi tidak sedikit yang cuma bisa saya tampung. Nyatanya, semua akan kembali pada prinsip pribadi masing-masing.

Perlahan, saya merasa mulai naik kelas. Meskipun lama atau terkadang harus mengulang kelas. Bahkan, beberapa kali saya merasa sudah turun kelas. Hehe. Tapi begitulah belajar, semakin kamu sering mengulang semakin kamu cerdas, seharusnya!

Akhirnya saya mulai paham, bahwa benar, ada dua jenis akhir dari kisah penantian (yang lahir dari kesepian) akan kehadiran seseorang, yang senang dan sedih! (1)Dia yang dinanti akhirnya tiba. (2) Si Penanti akhirnya lelah menunggu, lalu akhirnya memilih untuk berhenti dan melupakan segalanya.

Bagi saya, penantian ini jelas adalah untuk ‘dia’ yang suatu saat akan menjadi Imam saya satu-satunya. Akan menjadi anak ke-8, alias anak terakhir di keluarga inti saya.

Begitulah beberapa bulan ini saya lalui, dekat dengan seseorang yang bahkan saya tidak pernah sangka bahwa dia ‘adalah orangnya’. Dekat dengan seseorang yang semakin keras saya hindari, maka semakin keras dia berusaha menunjukan keseriusannya.

Saya bukan sedang jatuh cinta hingga membuat denyut jantung saya berpacu lebih dari biasanya. Saya bukan sedang jatuh cinta hingga membuat saya sakit karena tidak mau makan hanya karena saya tidak mendapat kabar darinya barang sehari saja.

Saya hanya merasa bahwa sejak saat itu, ada ribuan kupu-kupu cantik hidup di dalam tubuh saya. Saya pikir mereka semua penuh sesak ada di perut saya. Berlomba untuk keluar melalui dada-tenggorokan-mulut. Begitu setiap hari, hingga saya menjadi kebingungan.

Nyatanya, si bungsu yang manja ini mulai amat sangat merasa nyaman berada di sampingnya. Bangga, menemaninya. Tenang, bercerita dengannya. Senang, mendengar ceritanya. Hangat, di dekatnya. Dan, yakin bahwa Tuhan punya cara sendiri untuk mengiring kami.

Perlahan saya merasa, ‘iyah, sepertinya benar dia orangnya’. Berkaca dengan apa yang saya lewati sebelumnya, tentu tidak mudah untuk merasa ‘klik’, seperti itu. Tapi dia, sudah seenaknya dan sangat amat sangar lancang mengirim banyak kupu-kupu dalam tubuh saya hingga satu persatu keluar mewarnai hidup saya. Bahkan dengan waktu yang sangat amat singkat.

Keberanian serta rasa percaya dirinya tidak pernah berubah sejak pertama kali kami berkenalan. Kelebihan itu juga yang akhirnya menjadi celah bagi dirinya untuk masuk dan meyakinkan saya untuk melangkah dengan semantap ini. Sebuah cita-cita kehidupan dan cinta, yang memang sudah seharusnya begitu.

Kami kadang diam lama sekali dan sama-sama berfikir. Tidak percaya dapat melangkah semudah ini dalam waktu yang relatif cukup singkat. 🙂

Ah… Saya jadi ingat kata seseorang, dulu sekali. “Kamu akan siap menikah ketika ‘dia’ yang mengajakmu, juga siap.”

Ya begitulah yang saya rasakan saat ini. Ketika saya merasa bahagia, saya lihat dia jauh lebih bahagia. Ketika saya mulai ketakutan memikirkan langkah selanjutnya, dia dengan shabar memegang tangan saya dan mengatakan bahwa kami hanya perlu berdoa agar semua akan baik-baik saja.

Ah begitulah kami saat ini… 🙂

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑